Home » , » Nganggur Bermanfaat

9
Sahabat
Nganggur Bermanfaat


Oleh: R. Yahya*

Sabtu sore, 15 oktober  ’11 hanyalah hari biasa sebagaimana hari-hari sebelumnya. Nggak ada pekerjaan, nganggur, dan gak jelas. Coba liat teman saya yang lainnya, jelas, pada punya kerjaan semuanya. Menyebar menempati pos-pos TPA-nya masing-masing, ada juga yang jadi pencari donatur, dan lain-lain. Dulunya, sih.. saya juga termasuk salah satu dari mereka, jadi tenaga pengajar.  Tapi, semester baru sekarang ini sudah nggak lagi. Beda.
Namun, ya.. sebenarnya kerjaan ada aja, sih. Cuma belum ada komando aja dari atasan. Belum ada perintah langsung dari pondok untuk saya aktif bekerja sebagai security. Ya, security,, satpam! Begitulah kata-kata olokan temanku pada saya. Seakan-akan  kalo satpam itu adalah posisi rendahan.  Terus, ada juga yang bilang kalo saya nggak bakalan bisa keluyuran lagi. Hah, terserah. Tapi, aslinya saya kalem-kalem aja dibegituin. Biarin aja, emang orang “sakit” semua kok yang talking rubbish  kayak gitu. Nggak penting amat diladenin.
Buat saya jadi security lumayan juga, itung-itung nambah pengalaman hidup di pondok Hidayatullah yang bersebelahan dengan kampus elit ITS ini. Sekaligus, mudah-mudahan saja kalau jiwa sekuritas saya akan lebih bertambah lagi. O, iya.. berbicara tentang pondok ini, kata teman saya, pondok ini bagaikan “penjara suci”. Ups, sembarang aja teman saya nii. Dibilang “penjara”, katanya. Tapi, ya.. bagaimana nggak juga sih. Pagi sampai siang, kuliah. Habis ashar  tugas departemen (yang saya sebut tugas mengajar dan jadi satpam tadi). Malam, kegiatan pondok. Tidur, bangun malam terus shalat lail. “Hebat”, kan..? jelas, emang ada benarnya juga lah kalau kenyataannya begitu. Tapi, memang nggak apa-apa sudah. Sebab, apa salahnya dengan penjara? Coba liat Sayyid Qutb, sang mujahid yang tidak gentar menghadapi intervensi pemerintah negaranya, Mesir. Sampai dijebloskan ke penjara sekalipun beliau tetap gigih memegang prinsip yang haq di tangannya. Tidak sampai di situ, meskipun di penjara dalam keadaan tertekan beliau masih mampu menggoreskan tinta pikirannya dalam lembaran kertas yang tersedia. Super sekali, kan?
Maka dari itu, tempat seminim apapun ruang geraknya, kiranya masihlah kita mampu memanfaatkannya sebisa mungkin sebagai tempat cipta karya diri kita. Terlepas dari itu, saya bukannya setuju juga dengan penamaan pondok tercinta ini disebut sebagai  penjara kayak tadi. Tapi, setelah mendengar perkataan teman saya tentang pondok ini, di satu sisi saya terbayang dan berharap agar di pondok ini lahir Sayyid Qutb-Sayyid Qutb yang tangguh dan gigih seperti Sayyid Qutb versi aslinya.
Kembali ke suasana sabtu sore yang membosankan. Tadinya saya mau belanja ke Sakinah Supermaket (Hh, nganggur juga ternyata punya duit). Tapi,  berhubung tidak ada kendaraan yang bisa dinaiki, sudah tanya sana-tanya sini..
Akhi, apa ada sepeda nganggur?”
gak ada” Jawabnya kontan.
Sudah, balik ke kamar hanya bisa merenungi nasib yang tengah digeluti itu. Terkenang masa-masa dahulu yang pernah saya lalui, ada sepeda yang bisa dikendarai. Mau ke mana tinggal gowes, melaju tidak terhenti. Setia menemani, ke manapun saya pergi. Mengajar, ke warnet, asrama, mengajar, ke warnet, asrama, ke warnet lagi. Begitulah siklus perputaran roda dua tersebut. Nggak  ke mana-mana lagi. Tapi, sekarang sepeda nasionalis itu pergi pindah kendali. Dengan merah putihnya yang tetap melekat di kerangkanya. Hiks, hiks..
Seiring dengan ketidakberadaannya sepeda di tangan dan pindah tugasnya departemen (dari tenaga pengajar ke satpam), intensitas kunjungan saya ke warnetpun menurun drastis. Dan imbasnya, blog juga tidak terurus. Tapi, Alhamdulillah sesekali saya masih bisa pinjam sepeda ke teman saya. Jadi, blog saya tidak terlalu nganggur juga.
Sisi lain dari revolusi kecil pada diri saya, saya lebih banyak mendapati waktu kosong yang bisa dimanfaatkan. Ya, waktu luang yang ideal untuk dimanfaatkan dengan hal-hal yang baik. Menulis, membaca, mengerjakan makalah, dan hafalan al-Qur’an adalah menu yang mantap siap untuk disantap. Waktu yang kosongpun tidak menjadi habis sia-sia. Justru, kita akan mendulang banyak pahala darinya.
Jadi, orientasikanlah hidup kita ke sana, sesuatu yang ada feedbacknya langsung dari Allah SWT.. Bukan yang lain!

*) Penulis adalah anggota API (Asosiasi Penulis Islam) dan tinggal di suratanmakna.blogspot.com
Bookmark and Share

9 komentar:

Nurmayanti Zain mengatakan...

assalamu'alaikum

Farixsan Quilicuor (Faris Hardiyanto 177) mengatakan...

hahahaha mantap juga ya sobat :D

Farixsan Quilicuor (Faris Hardiyanto 177) mengatakan...

btw blognya mantep ya sidebarnya kok bisa di pindah pindah tuh :D mantap banget

Farixsan Quilicuor (Faris Hardiyanto 177) mengatakan...

caranya biar bisa di pindah pindah gimana sih sobat?

PersadaBlog mengatakan...

Tetaaap semangat ya mas :D

Sadeva Aldy Pratama mengatakan...

gan blognya ada malware terdeteksi nih...

Sadeva Aldy Pratama mengatakan...

coba lihat ini sob http://www.indojpg.com/images/553malware.jpg

Farixsan Quilicuor (Faris Hardiyanto 177) mengatakan...

wahhh sobat belum update update nih padahal sudah ane tunggu dari kapan tau :D

rusydi hikmawan mengatakan...

yang penting menjadi ummat yang bermanfaat dan mencerahkan, jangan jadi seseorang yang tidak diharapkan kehadirannya dan malah diharapkan kepergiannya. na'uzubillah

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Photobucket Photobucket Photobucket