Home » » MENCARI SESUATU YANG HILANG

1
Sahabat
MENCARI SESUATU YANG HILANG

Oleh: D. Rasyid Albar*

                Sudah lewat dua jam aku berdiri, mondar-mandir di ruangan ini, mengamati barang-barang bekas. Tas bekas, sepatu, panci, lemari besar dengan satu pintunya yang copot. Sebuah tongkat di sudut ruangan yang dulu kupakai ketika pramuka. Kasur busa yang sudah bolong di sana-sini serta berbagai macam barang dari yang masih dapat dipakai hingga yang tak layak pakai. Ada satu hal yang terlupa. Aku yakin sudah memeriksa semuanya hingga ke celah-celah sempit di antara tumpukan barang-barang, namun tak kutemukan.
                Aku berjalan keluar dari gudang, kemudian duduk berselonjor, bersandar ke dinding menghadap ke luar pintu belakang rumahku. Resah. Gelisah. Letih. Sedih? Tidak, tidak. Tapi mungkin.
                Kuputar kembali ingatan kejadian tadi. Aku sudah memeriksa semua kamar, lemari, rak-rak, dapur dan terakhir gudang. Namun tak kutemukan sesuatu itu. Sudah beberapa hari ini aku merasa gelisah. Sangat gelisah, karena sesuatu yang hilang itu. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Apapun yang kulakukan, aku tetap merasa kehilangan.
                Wait a minute! Tunggu dulu! Sebenarnya aku kehilangan apa, sih? Apa sebenarnya yang aku cari? Bagaimana mungkin aku menemukannya kalau apa sesuatu itu akupun tak tahu?...
                Sobat API. Hampir semua dari kita pernah mengalami hal seperti di atas (walaupun tidak persis seperti kisah di atas. Coz, ane menulisnya cuman ingin mengasah keterampilan menulis. Hehe). Yup, kita suatu kali, atau mungkin beberapa kali, merasa sangat gelisah karena merasa kehilangan sesuatu. Sesuatu yang bahkan kita pun tak tahu apa itu. Bagaimana bisa ketemu?! Coba aja bayangin. Namun, bukan berarti sesuatu itu mutlak tidak dapat ditemukan. Kita harus berusaha mencari, apa sesuatu itu. Renungi, renungi dan renungi lebih dalam. Dan, kemudian... ketemu! Sesuatu itu kebahagiaan akan iman. Ya, iman. Sesuatu itu adalah iman. Iman akan Tuhan yang menciptakan rasa bahagia. Sesuatu yang tak akan kita temukan di kamar kita, lemari, dapur, apalagi gudang. Ia terselip di sudut ruang hati kita. Tenggelam di dasar samudera hati kita.
                Sobat API. Sekarang kita sudah tahu, apa sesuatu itu. Maka raihlah ia. Tempatkan ia di tengah-tengah hati kita. Tariklah ia ke permukaan.
                Sobat API. Sering kita menganggap berfoya-foya, bergosip, berlibur, punya banyak uang, punya mobil mewah, dan lain sebagainya, mampu membuat kita bahagia. Padahal kebahagiaan yang sejati itu adalah iman. Meskipun pahit tersa. Pahit di lidah, manis di hati.
                Perlu diingat! Orang yang tidak pernah merasa gelisah bukan berarti adalah orang yang baik-baik saja. Bahkan seorang rasul pun pernah merasakan gelisah. Bagi kita, rasa gelisah yang datang boleh jadi itu pertanda datangnya hidayah. Mungkin tanpa kita sadari kita telah banyak berbuat kesalahan. So, yang penting, ketika rasa kehilangan, gelisah, itu datang, segera mencari sesuatu itu. Dan pertahankan agar kegelisahan tidak datang kembali, okey!

*) Penulis adalah anggota dari API (Asosiasi Penulis Islam)
Bookmark and Share

1 komentar:

Muhammad Luqmanul Hakim mengatakan...

Sip....emang iman itu sebenarnya karunia luar biasa yang sering terlupakan...

Good writing....teruskan! :-)

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Photobucket Photobucket Photobucket