Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

0
Sahabat
Dibalik Bencana Negeri Sakura


Oleh: Hasan*

         Ketika langit bergemuruh, ombak menggunung, dan langit bertiup kencang, maka awak kapalpun dengan panik berseru “ya Allah”. Ketika orang yang berjalan di tengah gurun pasir dan tersesat, kendaraan tak tahu lagi jalan yang benar, dan kafilah sudah kebingungan menentukan arah lajunya, maka mereka berseru “ya Allah”. Ketika musibah menimpa, bencana dan tragedi melanda, maka orang – orang pun berseru “ya Allah”. Ketika pintu – pintu permohonan telah ditutup dan sekat – sekat permintaan telah dipasangkan, maka mereka pun berteriak, “ya Allah” !
Ketika semua cara dicoba dan ternyata tidak ada celah untuk keluar. Ketika semua jalan menjadi sempit, semua yang dicita-citakan buntu, dan semua jalan pintas pun telah pupus maka merekapun menyeru “ya Allah”!
(Dr.Aidh ibn Abdullah al-Qorni, “La tahzan”)
Bookmark and Share

0
Sahabat
PEMERINTAH, INGAT GAJI LUPA RAKYAT

Oleh: Miftahuddin*

Setelah diputuskan oleh menteri keuangan tentang rencana penaikan gaji bagi 8.000 pejabat, hal ini seakan-akan menambah rasa sakit hati rakyat kecil yang hidup berada di bawah garis kemiskinan. Apakah pemerntah dapat merasakan apa yang di rasakan oleh rakyat miskin saat ini?

Menyakitkan
Apa yang dirasakan rakyat kecil selama beberapa bulan terakhir ini cukup membuat meraka menderita. Di saat bahan pokok melonjak naik, pembatasan BBM , penarikan pajak bagi setiap warteg dan masih banyak lagi, kini pemerintah malah menambahkan penderitaan bagi mereka dengan perencanaan pembangunan gedung baru DPR yang berkisar 3,1 triliun. Selain itu, yang membuat rakyat lebih sakit hati ialah rencana pemerintah untuk menaikkan gaji bagi para pejabat termasuk presiden SBY.

“ Nggak usah lama-lama, satu hari saja tukaran profesi, suruh mereka berdagang di sini, setelah itu baru minta gajinya dinaikkan, biar mereka malu sama masyarakat.”( republika 29/01/11). Kutipan di atas merupakan ungkapan rasa sakit hati Nita, seorang ibu rumah tangga beranak dua yang berprofesi sebagai pedagang cendramata di tasikmalaya.
Bookmark and Share

0
Sahabat
JERITAN RAKYAT INDONESIA

Oleh: Miftahuddin*
Sungguh menyedihkan, masih ada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal mereka  hidup di negeri yang kaya raya, Indonesia. Dibawa ke mana kekayaan negeri ini?
   
Memrihatinkan
Sungguh memrihatinkan, di saat harga bahan pokok seperti minyak, beras, gula, telur, cabai dan bawang  sudah meroket harganya dan sangat sulit untuk di jangkau, pemerintah justru memberikan “hadiah” kepada masyarakat berupa pembatasan subsidi BBM, kenaikan tarif dasar listrik, privatisasi BUMN, dan hadiah lainnya  yang menyakitkan hati.
Tidak hanya itu, dikabarkan juga harga bahan pokok lainnya kini melonjak naik. Sebutlah semisal lombok, minyak, dan gula. Selain itu,  pemerintah juga menarik pajak dari warteg-warteg dan masyarakat miskin. Wajarlah jika masih ada penduduk negeri ini yang hidup dalam keadaan memprihatinkan.
 Jika kita menelusuri apa saja yang menyebabkan kemiskinan di negri ini semakin meningkat, kebanyakan dari kita akan berpendapat bahwa penyebabnya adalah  pimimpin kita yang tidak amanah dalam menjalankan kewajibannya. Mereka  tidak peduli keadaan rakyat yang dilanda kelaparan. Mereka lebih sibuk dengan diri mereka sendiri. Sekedar refleksi bagi kita, dikabarkan bahwa pemerintah telah menganggarkan dana APBN 2011 untuk pembangunan gedung baru DPR sebesar Rp 800 miliar.(Republika 08/01/11)
Bookmark and Share

2
Sahabat
AIR MATA RINTIHAN SANG ”PAHLAWAN DEVISA”

Oleh: Khairul Umam*
 
Impian…..
Semua berawal dari sebuah impian
Antara sadar dan tidak sadar
Ku termenung di balik jendela
Menatapi satu titik harapan
Tak terasa keringat dingin
Dan tetesan air matapun berjatuhan
Kelam.......
Kelamnya kehidupan laksana malam tak berbulan dan bintang
Sungguh berat kehidupan yang kujalani
Bergitu kelam kehidupan yang kualami
Hari-hari kujalani dengan penderitaan
Ancaman dan siksaaan sudah menjadi langganan
Yang tak terlupakan
Bookmark and Share

4
Sahabat
GEJOLAK HATI

Oleh: Mahasiswa STAIL*
                                                             (1)
Penebar senyum
Kau menyihirku dengan senyummu
Menggetarkan hatiku
Melambungkan anganku
Seperti apakah hatimu
Sesuci senyumanmu kah?
Sebersih tingkah lakumu kah?
Biarlah kau menjawabnya
dalam sanubari hatimu
Beriringan dengan istiqomahmu
Oh…hati yang sekarat…
Yang tersekat buih-buih membara
Yang tercoreng gurat-gurat kebohongan
Separah itukah penyakitmu
Seindah itukah anganmu
Sesucika itukah rasamu
Sosok suci…
Bookmark and Share

2
Sahabat
GELOMBANG FITRAH DIRI

Oleh: Ridwan Yahya*

Jiwa kami yang telah berikrar
Kami berdiri untuk mengerti
Kami melangkah untuk memahami
Di masa itu pikiranku tengah mewarnai

          Ketika kami berlari
          Tangan kanan kami angkat sebuah panji
          Tangan kiri mengiringi dengan bara api
          Di masa itu ujianMu tengah membumbui

Waktu demi waktu berlalu
Sebuah rasionalisasi terhadap janji
Sedikit demi sedikit telah terpenuhi
Karakter aqidah Rabbani melengkapi

          Di sanalah apa yang kami cari
          Di sanalah apa yang kami harap
          Dan di sanalah apa yang kami tuju
          Kemilau kami adalah sebentuk manifestasi janji Illahi


*)Penulis merupakan anggota Asosiasi Penulis Islam (API) STAIL
Bookmark and Share

2
Sahabat
Tanah Suci yang Terusik

Oleh: Ridwan Yahya*

Dataran gersang yang diterjang
Permukaan tanah yang berpasir juga berdebu
Lesatan peluru dengan bengis mengusiknya
Semakin geram menerjang debu yang melayang

         Tak puas debu tanah suci hanya menjadi saksi
         Tanah suci dicoreti darah para penghuni
         Pribumi menantang dengan panji Illahi
         Sekarang tersakiti terus-menerus tiada henti
Bookmark and Share

3
Sahabat
Bertanyalah pada Rumput yang Bergoyang

Oleh: Irfan Fauzi* 

Akhir-akhir ini, negeri kita sedang berduka. Banyak bencana datang silih berganti, yang mengakibatkan ratusan nyawa menjadi korban. Belum lagi ditambah dengan kerugian materi yang tak terhitung jumlahnya. Entah mengapa bencana itu datang bertubi-tubi dan silih berganti, seakan-akan alam  ini benci dan marah kepada kita. Sehingga “dia” pun menumpahkan amarahnya melalui bencana yang tak kunjung reda. Nampaknya alam ini mulai enggan bersahabat lagi dengan kita.
Bookmark and Share

2
Sahabat
Indonesia dan Malaysia : Perlukah Berperang?

Oleh: Luqman al-Hakim*

       Betapa gampangnya sebagian masyarakat Indonesia dan Malaysia saling adu mulut serta aksi-aksi provokatif yang berindikasi untuk saling berperang, saling menumpahkan darah, dan saling memusnahkan.  Di Indonesia, misalnya, ada komentar-komentar di status Facebook, Yahoo Messangger maupun media jaringan sosial lain, yang bernada perlawanan terhadap Malaysia. Berita di TV juga menayangkan di beberapa kota terjadi demonstrasi yang mengecam Malaysia. Bahkan ada orang yang  menyatakan siap berperang menghadapi Malaysia. Hal yang terbaru adalah para hacker dari Indonesia menyerang situs-situs Malaysia.        
          Tentunya hal ini membuat kedua negara "panas". Masih segar dalam ingatan kita kata kunci "ambalat" atau slogan "ganyang Malaysia”. Tapi alhamdulillah, kedua negara tidak jadi berperang walaupun senjata-senjata berat telah dikirim ke perbatasan.  
Bookmark and Share

3
Sahabat
Sedih

Oleh : Slamet* 

Hujan turun....
Air mengalir
Ada yang turun dari hati
Mengalir perlahan......
Menuju samudera jiwa
Beku, dan tak sempurna
Hilang... semua hilang....
Berasa kaku
Berlahan jiwapun menangis....

 *)Penulis adalah anggota Asosiasi Penulis Islam (API) STAIL



                                                    
Bookmark and Share

1
Sahabat
Lail

Oleh: Mahasiswa STAIL

Desah angin membelai anganku
Saat mimpi ini terbang melebar sayap
Bila diri sayu kesyahduan
Dirundung rasa sejuta
Lihatlah…….
Bintang itu tersenyum melambai
Berucap salam pada orang-orang terjaga
Amati dan isilah dengan lantunan pujian
Pada sang kekasih.
Di setiap gerakku
Tatkala kejenuhan merasuk diri
Tetapkanlah hati
Agar kokoh rasa iman ini
Dan akan tetap terjaga di sanubari

*) Penulis merupakan anggota API STAIL


Bookmark and Share
Photobucket