Oleh: Hasan*
Ketika langit bergemuruh, ombak menggunung, dan langit bertiup kencang, maka awak kapalpun dengan panik berseru “ya Allah”. Ketika orang yang berjalan di tengah gurun pasir dan tersesat, kendaraan tak tahu lagi jalan yang benar, dan kafilah sudah kebingungan menentukan arah lajunya, maka mereka berseru “ya Allah”. Ketika musibah menimpa, bencana dan tragedi melanda, maka orang – orang pun berseru “ya Allah”. Ketika pintu – pintu permohonan telah ditutup dan sekat – sekat permintaan telah dipasangkan, maka mereka pun berteriak, “ya Allah” !
Ketika semua cara dicoba dan ternyata tidak ada celah untuk keluar. Ketika semua jalan menjadi sempit, semua yang dicita-citakan buntu, dan semua jalan pintas pun telah pupus maka merekapun menyeru “ya Allah”!
(Dr.Aidh ibn Abdullah al-Qorni, “La tahzan”)