0
Sahabat
PEMERINTAH, INGAT GAJI LUPA RAKYAT

Oleh: Miftahuddin*

Setelah diputuskan oleh menteri keuangan tentang rencana penaikan gaji bagi 8.000 pejabat, hal ini seakan-akan menambah rasa sakit hati rakyat kecil yang hidup berada di bawah garis kemiskinan. Apakah pemerntah dapat merasakan apa yang di rasakan oleh rakyat miskin saat ini?

Menyakitkan
Apa yang dirasakan rakyat kecil selama beberapa bulan terakhir ini cukup membuat meraka menderita. Di saat bahan pokok melonjak naik, pembatasan BBM , penarikan pajak bagi setiap warteg dan masih banyak lagi, kini pemerintah malah menambahkan penderitaan bagi mereka dengan perencanaan pembangunan gedung baru DPR yang berkisar 3,1 triliun. Selain itu, yang membuat rakyat lebih sakit hati ialah rencana pemerintah untuk menaikkan gaji bagi para pejabat termasuk presiden SBY.

“ Nggak usah lama-lama, satu hari saja tukaran profesi, suruh mereka berdagang di sini, setelah itu baru minta gajinya dinaikkan, biar mereka malu sama masyarakat.”( republika 29/01/11). Kutipan di atas merupakan ungkapan rasa sakit hati Nita, seorang ibu rumah tangga beranak dua yang berprofesi sebagai pedagang cendramata di tasikmalaya.
Bookmark and Share

0
Sahabat
Perayaan Tahun Baru Masehi di Mata Islam

Oleh: Ridwan Yahya*

       Jika kita sebagai orang muslim jeli memandang suatu fenomena yang terjadi di sekitar kita, yang awalnya kita beranggapan bahwa hal demikian adalah suatu kewajaran yang sudah terjadi di kalangan masyarakat. Bahkan, kita pun sudah memandangnya sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan manfaat pula. Padahal, tanpa kita sadari bahwa itu semua ternyata bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh agama kita.
Seiring dengan statement di atas, akhir-akhir ini kita telah melewati sebuah momen yang selalu dibumbui dengan berbagai macam kemeriahan dan euforia megah di dalamnya, yakni perayaan tahun baru masehi. Hampir di semua belahan dunia manapun, sibuk mempersiapkan acara-acara untuk menyambut bergulirnya pergantian tahun masehi tersebut. Suasana yang serba ramai dan meriah yang tercipta pada setiap detiknya, penuh diwarnai dengan semaraknya tiupan terompet dan letusan kembang api di udara yang menandakan bahwa tahun baru itu telah tiba.
Bookmark and Share

2
Sahabat
MEMAKNAI TAHUN BARU

Oleh: Khairul Umam*

Saat ini kita telah memasuki  tahun 2011 Masehi.  Bulan yang bersejarah bagi orag Kristen, yaitu bulan januari.  Bulan  yang terkait dengan lahirnya yesus kristus atau Isa al-masih. Al-masih sendiri diambil dari kata masehi. Sehingga agama Kristen sering disebut agama masehi. Masa sebelum yesus lahirpun disebut tahun sebelum masehi. Tahun baru masehi ini sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga dunia.
            Sudah menjadi tradisi yang cukup kental bagi semua warga dunia, bahwa pergantian tahun baru masehi identik denga perayaan yang berlebih-lebihan. Misalnya dengan hura-hura, bergadang semalaman, tiup terompet, pesta kembang api, dan sebagainya. Semua itu tidak serta-merta didapat atau dilakuka secara cuma-cuma. Tapi dengan mengeluarkan biaya dan tenaga yang cukup banyak. Mereka rela bekorban demi tercapainya sebuah kepuasan nafsu yang datangnya dari syaitan yang tidak diridhoi Allah, yang pada akhirnya kerugian yang didapatkan.
            Sekedar contoh, pada malam menjelang pergantian tahun baru rata-rata pemuda-pemudi bebondong-bondong pergi ke tempat hiburan,  klub malam, nonton bersama di bioskop, berpestaria dan sebagainya. Nah, perbuatan seperti ini lekat dengan hal-hal yang sifatnya hura-hura, sebuah prilaku yang bisa jatuh pada kriteria  sia-sia. Karena tidak dapat mendatangkan kemanfaatan. Tentu saja hura-hura seperti ini dekat dengan kemaksiatan. Selain itu, kerap sekali membutuhkn biaya yang tidak sedikit. Bagi seorang  muslim, aktivitas seperti ini tidak ada manfaatnya. Karena tergolong perbuatan yang sia-sia dan termasuk pemborosan.
Bookmark and Share

0
Sahabat
Ilmu, Jalan Pintas Mengentas Kemiskinan

Oleh: A. Nafi’ adh-Dhukha*

 Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S al Mujadalah ; 11)

Akhir-akhir ini, wacana tentang kemiskinan yang melanda negeri ini ramai diperbincangkan di berbagai media yang diungkapkan dalam berbagai sudut pandang berbeda. Hal tersebut muncul sebagai bentuk respon atas pencapaian pemerintah selama satu tahun kemarin dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Pemerintah merasa cukup berbangga atas hasil yang diperoleh. Angka kemiskinan berkurang, nilai ekspor meningkat, nilai rupiah makin menguat, dan lain-lain. Mereka pun seolah ingin mengatakan negeri ini telah selangkah maju menuju kemakmuran. Benarkah demikian?

Di satu sisi, media juga mengungkapkan suatu realita tentang kehidupan masyarakat yang hidup  di bawah garis kemiskinan. Tidak sedikit di antara mereka yang harus merasakan beban hidup yang semakin lama semakin berat saja. Seolah-olah hidup tidak adil. Mereka tidak menerima kenyataan hidup, mereka tangisi kemiskinannya hingga merasa takut untuk menghadapi hidup.
Bookmark and Share

0
Sahabat
JERITAN RAKYAT INDONESIA

Oleh: Miftahuddin*
Sungguh menyedihkan, masih ada masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal mereka  hidup di negeri yang kaya raya, Indonesia. Dibawa ke mana kekayaan negeri ini?
   
Memrihatinkan
Sungguh memrihatinkan, di saat harga bahan pokok seperti minyak, beras, gula, telur, cabai dan bawang  sudah meroket harganya dan sangat sulit untuk di jangkau, pemerintah justru memberikan “hadiah” kepada masyarakat berupa pembatasan subsidi BBM, kenaikan tarif dasar listrik, privatisasi BUMN, dan hadiah lainnya  yang menyakitkan hati.
Tidak hanya itu, dikabarkan juga harga bahan pokok lainnya kini melonjak naik. Sebutlah semisal lombok, minyak, dan gula. Selain itu,  pemerintah juga menarik pajak dari warteg-warteg dan masyarakat miskin. Wajarlah jika masih ada penduduk negeri ini yang hidup dalam keadaan memprihatinkan.
 Jika kita menelusuri apa saja yang menyebabkan kemiskinan di negri ini semakin meningkat, kebanyakan dari kita akan berpendapat bahwa penyebabnya adalah  pimimpin kita yang tidak amanah dalam menjalankan kewajibannya. Mereka  tidak peduli keadaan rakyat yang dilanda kelaparan. Mereka lebih sibuk dengan diri mereka sendiri. Sekedar refleksi bagi kita, dikabarkan bahwa pemerintah telah menganggarkan dana APBN 2011 untuk pembangunan gedung baru DPR sebesar Rp 800 miliar.(Republika 08/01/11)
Bookmark and Share
Photobucket Photobucket Photobucket